Anda disini: HOME Administrasi Kegiatan Presentasi buku biografi Walter Spies dan Raden Saleh di Wahlstorf

 _MG_8609   
You can’t imagine what Bali looked like ... It was the most fantastic thing that ever existed. I do not believe that anyone anywhere in the world has been received with such pomp and ceremony,” demikian ungkap Walter Spies dalam salah satu chapter dari Buku berjudul  “Walter Spies – Life in Art” karya John Stowell.

Buku tersebut merupakan salah satu dari 3 edisi penting tentang tokoh seni lukis kelas dunia yang dipresentasikan pada tanggal 2 Februari 2013 di tempat kediaman Baroness Victoria Plessen di Wahlstorf, yang merupakan anggota kehormatan “Asosiasi Masyarakat Jerman Pencinta Walter Spies (Walter Spies Gesselshaft Deutchland / WGSD) dan memiliki banyak sekali benda-benda budaya Indonesia.  Dua buku lainnya yang turut dipamerkan pada acara tersebut adalah “The Art of Life, Walter Spies” - Collector Edition yang diterbitkan oleh Afterhours Book, Jakarta dan “Raden Saleh – The Beginning of Modern Indonesian Painting” karya Werner Kraus.

 

Acara presentasi buku ini diselenggarakan oleh WGSD dan dihadiri oleh sekitar 30 tamu undangan khusus, antara lain Konjen RI Hamburg, Staf KBRI Berlin mewakili Dubes RI, Dr. Norbert Baas (Mantan Dubes Jerman untuk Indonesia), Drs. Felix Rhodius (putra Hans Rhodius - penulis biografi Walter Spies) yang khusus datang dari Belanda dan sejumlah insan budaya.

 

Dalam presentasinya Ketua WGSD, Horst Jordt menyampaikan fakta-fakta menarik tentang kehidupan Walter Spies, seorang seniman Jerman yang sangat mencintai Indonesia, khususnya Bali.  Spies lahir di Moskow tahun pada 1895 dan merupakan anak dari seorang pedagang Jerman yang kaya raya dan telah lama menetap di Moskow. Sejak muda ia telah menggemari  seni lukis, musik, dan tari.

 

Pada tahun 1923 Spies pergi ke Pulau Jawa dan menetap pertama kali di Yogyakarta. Dia dipekerjakan oleh Sultan Yogyakarta sebagai pianis dan diminta untuk membantu kegiatan seni di keraton. Spies adalah orang pertama yang memperkenalkan notasi angka untuk gamelan di keraton Yogyakarta yang kemudian dikembangkan di keraton-keraton lainnya dan digunakan hingga sekarang.

 

Setelah menyelesaikan masa kontrak kerjanya di Yogyakarta, dia lalu pindah ke UbudBali pada tahun 1927. Di Pulau Dewata inilah dia menemukan tempat impiannya dan menetap hingga akhir hayatnya. Di bawah bimbingan dan perlindungan Raja Ubud saat itu, yakni Cokorda Gede Agung Sukawati, Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Dia mengembangkan teknik lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Selain itu, di bidang seni tari dia juga bekerja sama dengan seniman setempat, yaitu Limbak  dalam mengimprovisasi Tari Kecak, sendratari kolosal yang sangat populer di Bali.

 

Walter Spies adalah seorang tokoh penting di belakang modernisasi seni di Jawa dan Bali. Dia dikenal sebagai seorang yang sangat berpengaruh dalam memperkenalkan tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Melalui jaringan perkenalannya yang luas, banyak tokoh, bangsawan, dan seniman ternama Eropa yang merupakan teman dan kerabat dekatnya  yang diundang ke Bali untuk melihat sendiri pulau kebanggaannya itu.

 

Perang Dunia Kedua membawanya pada nasib yang buruk. Sebagai WN Jerman, dia ditangkap oleh Pasukan Hindia Belanda dan meninggal  pada tanggal 19 Januari 1942 ketika Kapal Belanda 'Van Imhoff' yang akan membawanya ke tempat tahanan di Ceylon dibom oleh tentara Jepang.

 

Untuk mengenang kehidupan dan karya Walter Spies yang dipandang sebagai seniman luar biasa dan tokoh penting dalam hubungan Indonesia-Jerman, sejumlah masyarakat Jerman berinisiatif membentuk sebuah asosiasi atau peserikatan dengan nama Walter Spies Gesselshaft Deutchland (WGSD).  Perserikatan tersebut banyak mengoleksi lukisan dan barang-barang peninggalan Walter Spies seperti buku, foto, tulisan, surat-surat, dan benda-benda lainnya yang pernah dimiliki oleh Walter Soies semasa hidupnya. Selain itu, perserikatan tersebut juga sangat aktif dalam memelihara hubungan kerjasama Indonesia-Jerman di bidang kebudayaan. Sejak tahun 2011, WGSD telah menyerahkan sejumlah koleksi lukisan karya Walter Spies untuk dipamerkan kepada publik di Museum Rautenstrauch di Köln.

 

Apabila Jerman memiliki Walter Spies, Indonesia pun memiliki seorang maestro seni lukis yaitu Raden Saleh yang karya-karyanya begitu melegenda dan banyak tersebar di Eropa.  Pelukis yang terlahir dengan nama Raden Saleh Sjarif Bustaman itu telah mewariskan kebanggaan tersendiri bagi Indonesia.  Buku-buku sejarah seni rupa Jerman mencatat nama Raden Saleh sebagai pelukis yang ikut mewarnai perkembangan seni di kawasan Eropa.

 

Dalam bukunya yang berjudul “Raden Saleh – The Beginning of Modern Indonesian Painting”,  Werner Kraus menyajikan intisari riset dan studinya selama bertahun-tahun. Buku tersebut  memuat esai memukau mengenai kehidupan spektakuler Raden Saleh sebagai pelukis, ilmuwan, pembaru seni dan pendidik, kolektor dan pelestari, serta dokumentasi karya-karyanya berikut berbagai ilustrasi, foto, dan potret diri Raden Saleh.

 

Menurut Kraus, pada tahun 1829 Raden Saleh menjadi orang Jawa pertama yang melakukan perjalanan ke Eropa dan orang Indonesia pertama yang mempelajari gaya lukis Eropa. Salah satu fakta menarik tentang figur Raden Saleh, selain sebagai seniman, dia adalah figur yang dapat masuk dalam lingkaran petinggi Eropa kala itu, salah satunya Ratu Victoria dari Kerjaan Inggris.

 

Tokoh Raden Saleh ditampilkan dalam acara presentasi buku ini karena memiliki kesamaan dengan Walter Spies, keduanya melakukan perjalanan ke luar negeri (Spies ke Asia, dan Raden Saleh ke Eropa)  untuk  sama-sama  menimba ilmu dan belajar seni lukis. (Pensosbud - KJRI Hamburg)

 

 

  • My Indonesia
Anda disini: HOME Administrasi Kegiatan Presentasi buku biografi Walter Spies dan Raden Saleh di Wahlstorf