Pada hari sabtu yang sejuk, Museum Etnologi Hamburg (Museum für Völkerkunde) dihangatkan dengan sajian kesenian dan hidangan Nusantara pada acara “Satu hari di Nusantara“ (Ein Tag im Indonesischen Archipel) tanggal 25 September 2010. Acara ini mendapat sambutan yang menggembirakan dari warga Hamburg dan sekitarnya. Hal ini tidak saja terlihat dari jumlah pengunjung yang mencapai lebih dari 500 orang, tetapi juga dari antusiasme mereka menikmati rangkaian acara Festival kebudayaaan Indonesia.
Acara diawali pada siang hari dengan workshop Angklung dan workshop kerajinan tangan yang menarik perhatian para pengunjung, tidak hanya mereka yang datang untuk menyaksikan acara kebudayan Indonesia, tetapi juga mereka yang datang untuk melihat koleksi Museum Etnologi tersebut. Sehingga semakin sore hari, acara “Satu hari di Nusantara” semakin ramai dikunjungi. Sekitar jam tiga sore acara penampilan senibudaya dimulai di foyer Museum für Völkerkunde Hamburg dimulai dengan tari kijang dan tari Merak. Kemudian, lagu-lagu Batak seperti Lagu "Sigu Lempong", "Sitogol" dan "Situmorang" yang didendangkan Masyarakat Nauli Indonesia (MNI) melengkapi acara sore hari di Museum. Musik gembira tersebut memukau para pengunjung dan membuat sebagian dari mereka langsung berjoged.
Pada stan promosi kerajinan tangan Indonesia yang disiapkan oleh ITPC Hamburg, para pengunjung dapat mengetahui potensi ekonomi dan produk Indonesia. KJRI Hamburg dan ITPC juga membagikan bahan-bahan informasi parawisata Indonesia dalam bentuk brosur-brosur dan leaflet kepada masyarakat Jerman yang hadir.
Sanggar seni Margi Budoyo binaan KJRI Hamburg, yang tampil dengan instrumen gamelan lengkap dan membawakan beberapa tembang tradisional memikat para tamu kehormatan yang baru datang untuk menghadiri sesi Malam acara “Satu hari di Nusantara”. Diiringi alunan gamelan Jawa, suasana khas Indonesia langsung terasa pada saat baru masuk ke Museum. Selain itu pintu utama dan aula museum didekorasi dengan payung-payung warna-warni dan umbul-umbul. Belum lagi aroma makanan Indonesia seperti Siomay, sate, gado-gado dan beberapa kue khas Indonesia yang semakin melengkapi suasana tersebut. Dari siang sampai malam para pengunjung juga sangat menikmati hidangan khas Nusantara yang dijual di dual stan makanan yaitu oleh Dharma Wanita Persatuan Hamburg dan restoran Indonesia Toraja.
Para tamu kehormatan yang datang khususnya untuk menghadiri sesi malam terdiri dari Konsular Korps, pejabat pemerintah, dosen Universitas Hamburg, para pengusaha dan friends of Indonesia. Act. Konjen RI di Hamburg, Yayat Sugiatna, mengundang mereka untuk menghadiri resepsi sebelum sesi malam dimulai. Mereka mengakui sangat menikmati suguhan seni budaya Indonesia dan karena itu dengan sangat senang terima undangan untuk datang pada acara malam ini.
Sesi malam yang dilaksanakan di hall Museum diawali oleh tari penyambutan dari pulau Bali yang dibawakan oleh Nyama Braya Bali Jerman. Para penari Bali yang khususnya datang dari kota Hannover untuk mengsukseskan acara ini, disambut dengan sangat baik oleh para penonton. Banyak sekali penontan yang datang dan memenuhi ruang pertunjukkan dan membuat suasana sangat meriah. Dyah Narang-Huth sebagai pembawa acara mengantarkan para hadirin pada perjalan keliling Nusantara yang berlangsung sekitar satu setengah jam. Dia banyak memberi informasi tentang seni budaya Indonesia yang sangat bermanfaat memberikan informasi kepada penonton.
Act Konjen RI Hamburg Yayat Sugiatna dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kerjasama Museum fur Volkerkunde, Ikat Agentur dan Indonesian Trade Promotion Center untuk menyelenggarakan acara ini. Disampaikan juga bahwa KJRI Hamburg pada acara ini memperkenalkan seni budaya Indonesia dari beberapa propinsi di Indonesia yang sangat beragam. Selanjutnya di katakan bahwa Indonesia terkenal sebagai negara terbuka dengan keanekaragaam budaya dan agama yang memiliki masyarakat dengan keramahtamahan dan toleransi sangat tinggi. Oleh karena itu masyarakat Jerman menganugerahkan Indonesia dengan Award sebagai Negara tujuan wisata Asia terbaik kedua pada pameran pariwisata terbesar di dunia, ITB 2009. Diharapkan pada akhir acara malam ini, para pengunjung mendapat gambaran dan kesan yang menarik tentang seni budaya dan makanan Indonesia.
Para Pelajar dan Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Sanggar Seni Margi Budoyo menampilkan keanegaragaam tarian dari berbagai propinsi di Indonesia seperti Sumatra Barat, Jawa Tenggah dan Jawa Barat, yaitu tari Indang, tari Jaipongan dan tari Merak yang
mengundang applaus para pengunjung. Kekompakan mereka dalam menari dan pakaian yang berwarna-warni mendapat apresiasi warga setempat. Sebagian besar dari mereka belum pernah berkesempatan melihat tarian tradisional yang memukau ini.
Acara dilanjutkan dengan Rampak kendang Sunda yang dinamis. Pementasan yang penuh humor dan kompak itu berlangsung selama 15 menit, memukau para penonton yang memadati ruang pertunjukan Museum für Völkerkunde Hamburg. Gelak tawa dan tepuk tangan tak henti mengiringi aksi para pemain Rampak kendang.
Sebelum istirahat, Hamburg Angklung Orchestra memperkenalkan alat musik tradisional Indonesia dengan permainan angklung melalui berbagai lagu tradisional Indonesia maupun lagu barat seperti “New York New York” dan “Mission Impossible”. Para penonton sangat terpesona atas keterampilan dan kekompakan para pemain memainkan alat musik yang terbuat dari bambu dan diselingi bunyi kendang yang diklolaborasikan dengan drum dan organ yang membuat suasana menjadi meriah.
Setelah rehat selama 30 menit, acara ditutup oleh pentas wayang kulit. Lakon "Bima Suci" dibawakan oleh dalang Maharsi. Dialog wayang "Bima Suci" menggunakan bahasa Jerman untuk memudahkan penonton mengikuti pertunjukkan tersebut. Selama pertunjukan, intonasi dalang yang berubah-ubah sesuai dengan figur yang dibawakan bersahut-sahutan dengan suara khas gamelan.
“Satu hari di Nusantara“ adalah salah satu bentuk kerjasama KJRI Hamburg dan Museum Etnologi Hamburg dibantu oleh Indonesian Trade Promotion Center Hamburg dan komponen masyarakat seperti Ikat-Agentur. Museum tersebut sangat tepat untuk acara tersebut karena terletak di pusat kota yang strategis dan memiliki koleksi artefak Indonesia yang sangat lengkap serta dikenal oleh publik di Jerman.
Sumber: KJRI Hamburg


















