Melihat potensi produk-produk hasil perikanan Indonesia yang semakin baik mutunya dan semakin meningkatnya permintaan atas makanan berbahan baku ikan di Jerman, KJRI Hamburg sejak tahun yang lalu berupaya mengatur kedua pertemuan di atas. Delegasi DKP RI dipimpin oleh Dr. Made L. Nurjana, Direktur Jenderal Budidaya Perikanan Delegasi beranggotakan beberapa pejabat DKP, Ketua Komisi Rumput Laut Indonesia serta 7 pengusaha di bidang budidaya, pengolahan ikan, ikan hias serta peralatan pendukung industri perikanan.
Selain banyak membahas mengenai masalah regulasi dan sertifikasi mutu, Dirjen Budidaya Perikanan juga memberikan presentasi mengenai perkembangan potensi hasil perikanan budidaya maupun tangkapan di perairan Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, Konjen RI di Hamburg, Teuku Darmawan juga memberikan sambutannya yang antara lain menyoroti data dari Eurostat bahwa nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke pasar Jerman masih sangat kecil jumlahnya yaitu sekitar 26 juta Euro atau hanya sekitar 0,88% dari total impor produk perikanan Jerman. Diharapkan dengan adanya pertemuan ini dapat terjalin kerjasama yang baik antara kedua belah pihak untuk meningkatkan ekspor produk perikanan Indonesia ke Jerman.
Pihak KADIN (Handelskammer) Bremerhaven maupun Hamburg menanggapi sangat positif kunjungan ini dan menyampaikan akan berupaya meningkatkan kerjasamanya dengan Indonesia.
Pada kunjungan tersebut ,delegasi juga berkesempatan melakukan peninjauan ke Deutsche See di Bremerhaven, salah satu perusahaan pemrosesan ikan terbesar di Jerman. Disana delegasi mendapat presentasi dan melihat secara langsung bagaimana standar kualitas diterapkan dalam tiap tahap pemrosesan. Selain itu juga teridentifikasi peluang usaha untuk beberapa jenis produk ikan seperti nila dan patin.
Para pengusaha yang mengikuti kunjungan ini, terlihat antusias dapat melihat secara langsung pemrosesan ikan dengan standart tinggi . Terdapat juga ikan dari Indonesia dalam jumlah masih relatif kecil. Pengusaha tersebut juga mendapat kesempatan mengadakan pembicaraan dengan mitranya. (Sumber : KJRI Hamburg).












