Untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun terhenti, di kota Bremen deselenggarakan promosi seni budaya Indonesia dengan thema „ Indonesian Day“, tanggal 25 Juni 2009 bertempat di Universitas Bremen. Acara yang diselenggarakan oleh PPI Bremen dengan dukungan KJRI Hamburg tersebut menampilkan tari-tarian, wayang kancil, konsert angklung, rampak kendang, kuliner khas Indonesia, pameran foto dan kerajinan tangan. Thema yang disampaikan dalam acara tersebut adalah memberikan gambaran mengenai keanekaragaman seni dan budaya serta keindahan objek wisata
Indonesia.
Pertunjukan seni tari dan budaya yang diadakan di Theatersaal Universitas Bremen, dimulai dengan tari pembukaan „ Tari Cilinaya“ dari Bali yang dibawakan oleh mahasiswi dari Bremen. Kemudian diikuti dengan vokal group yang membawakan lagu-lagu berbagai daerah di Indonesia dan Wayang Kancil. Selanjutnya acara diselingi rehat sambil menikmati makanan khas Indonesia dan melihat pameran foto yang menghiasi dinding lobby gedung theater Uni Bremen.
Setelah rehat, para penonton menyaksikan tari Saman yang dibawakan oleh mahasiswa mahasiswi anggota PPI Bremen. Tarian yang sangat atraktif tersebut dibawakan dengan kerjasama yang apik sehingga menghasilkan gerakan yang kompak, indah dan dinamis yang membuat kagum para penonton.
Acara berikutnya, penampilan konsert angklung yang dimainkan oleh para pelajar dan mahasiswa di Hamburg yang tergabung dalam Group Hamburg Angklung Orchestra. Konsert angklung tersebut mampu memukau dan membuat kagum sekitar 150 orang penonton yang terdiri dari warga negara Jerman dan para mahasiswa asing yang study di Uni Bremen. Lagu-lagu yang disajikan dengan apik dan kompak a.l. Kicir-kicir, Jali-jali, Eddelweis, Halo-Halo Bandung dan Kopi Dangdut. Karena begitu senangnya menikmati sajian group angklung tersebut, disaat selesai dan akan turun panggung, para penonton memberikan applause yang sangat meriah dan meminta group angklung tersebut untuk menampilkan kembali lagu dengan meneriakkan yel-yel „ Zugabe, Zugabe !“ ( more ! more ! ). Akhirnya untuk memenuhi permintaan penonton tersebut, group angklung menambah satu lagu lagi dan diakhiri dengan applause yang panjang. Tidak kalah menarik, acara berikutnya adalah rampak kendang yang dibawakan oleh Sdr. Prio, pelatih angklung dan dua pelajar Indonesia di Hamburg. Para penabuh kendang menghibur para penonton dengan menyuguhkan keterampilannya dalam memainkan kendang diselingi dengan gerakan-gerakan dan mimik yang lucu, sehingga memancing gelak tawa penonton yang membuat suasana menjadi semakin meriah.
Sambil menonton pertunjukan seni budaya, para pengunjung dapat menikmati kuliner Indonesia yang menyajikan makanan khas Indonesia, seperti gado-gado, kue-kue khas Indonesia, es cendol dan lain-lain.
Acara tersebut dihadiri oleh Duta Besar RI Berlin Eddy Pratomo beserta Ibu, Konjen RI Hamburg Teuku Darmawan beserta Ibu dan beberapa staf Perwakilan RI Berlin dan Hamburg. Dalam sambutannya, Duta Besar RI Berlin, a.l. menyampaikan terima kasih dan apresiasinya kepada pengurus PPI dan masyarakat Indonesia di Bremen yang didukung oleh KJRI Hamburg untuk menyelenggarakan Indonesian Day, sebagai bentuk nyata turut mempromosikan seni budaya dan pariwisata Indonesia dalam rangka Visit Indonesia Year 2009. Diharapkan acara-acara serupa dapat kontinyu dilaksanakan di Bremen dan kota-kota lainnya. Beliau mengajak para penonton untuk berkunjung ke Indonesia yang memiliki beraneka budaya dan tempat wisata dan alam yang indah.
Penyelenggaraan promosi seni budaya ini, berlangsung dengan sukses dan mendapat sambutan yang hangat dari para pengunjung yang datang dari kota Bremen dan sekitarnya. Melalui kegiatan tersebut PPI dan masyarakat Indonesia di Bremen dengan dukungan KJRI Hamburg telah berhasil memperkenalkan beragam seni budaya di Jerman dan khususnya di kota Bremen. Dengan penyelenggaraan acara Indonesian Day ini, diharapkan makin banyak masyarakat Jerman yang akan mengetahui betapa luasnya wilayah Indonesia, serta memiliki beraneka ragam seni budaya dan keindahan alam yang tersebar diberbagai tujuan wisata di kepulauan Nusantara. ( Sumber : KJRI Hamburg)