Dengan antusiasme yang tinggi masyarakat Werpeloh menyambut hangat festival budaya Indonesia khususnya budaya Batak yang pertama kali diadakan di kota tersebut. KJRI Hamburg bersama Masyarakat Nauli Indonesia (MNI) serta ikatan Batakhaus menggelar festival seni budaya Indonesia dengan judul „Indonesisches Kulturfest“ di arena Batakhaus, kota Werpeloh pada tanggal 2 Agustus 2009.
Penampilan seni budaya dimulai sekitar jam 14.00 di atas panggung besar yang bertempat di arena Batakhaus dan didekorasi dengan ornamen khas Indonesia seperti umbul-umbul, payung, spanduk dan bendera-bendera Indonesia. Grup MNI menampilkan senibudaya Batak yang dikoordinir oleh E. Musa Sitompul. Tari-tarian yang ditampilkan adalah a.l. tari Mula Mula, tari Somba, tari Gondang Liat Liat dan tari Raja Doli. Selain itu, MNI juga menyanyikan lagu-lagu tradisional Batak yang meriah, a.l. Sigulempung, Sitogol, Alusiau dan Situmorang. Pengunjung juga dihibur oleh penari
Acara secara resmi dibuka bersama di atas panggung oleh anggota parlemen Jerman Gitta Connemann, Konjen RI di Hamburg Teuku Darmawan, Walikota (Bürgermeister) kota Sögel Günter Wiegbers dan Walikota Werpeloh Hermann Grotjohann serta ketua ikatan Batakhaus Bernhard Schmitz dan Ketua MNI Paris Rumarhorbo. Konjen RI menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak yang terlibat dalam persiapan acara ini. Dengan kehadiran masyarakat dari Werpeloh dan sekitarnya membuktikan besarnya minat masyarakatnya di wilayah tersebut terhadap budaya Indonesia. Disebutkan juga bahwa acara ini memiliki makna lebih penting, yaitu meningkatkan persahabatan antara komuniti Batak serta Werpeloh dan Sögel. Sebagai dasar untuk peningkatan persahabatan tersebut, dilakukan penandatanganan deklarasi persahabatan antara MNI Hamburg dan ikatan Batakhaus yang disaksikan oleh Konjen RI dan Walikota Sögel dan Werpeloh.
Selama acara berjalan, para pengunjung mencicipi makanan Indonesia yang dijual di berbagai stan di arena taman Batakhaus. Ibu-ibu dari empat ormas Jerman menyajikan masakan khas Indonesia seperti Mie Goreng, Sate Ayam, Lumpia dan kue lapis yang sangat laris. Hanya dalam waktu tiga jam telah terjual 600 porsi Mie Goreng.
Pada salah satu stan KJRI Hamburg mempromosikan pariwisata Indonesia dengan menayangkan film dokumentasi tentang kehidupan di Tanah Batak dan membagi bahan-bahan informasi dalam bentuk brosur dan leaflet. Selain stan Indonesia terdapat juga stan-stan lain yang membagikan informasi tentang yayasan yang membantu keluarga kurang mampu di pulau Nias, stan informasi perusahaan industri perkapalan Meyer yang memiliki hubungan kerjasama yang lama dengan Indonesia, stan informasi mengenai daerah Emsland serta informasi tentang sejarah rumah Adat Batak. Pengunjung „Indonesisches Kulturfest“ sangat tertarik untuk meninjau Rumah adat Batak yang terletak di samping lapangan tempat diselenggarakan acara.
Sekitar 600 orang menghadiri acara „Indonesisches Kulturfest“ yang berlangsung dengan meriah. Minat dan antusiasme masyarakat setempat terhadap budaya
Acara yang menitikberatkan budaya Batak ini telah dirancang atas inisiatif Konjen RI di Hamburg, Teuku Darmawan, pada pertemuan Konjen RI bersama Ketua MNI dan pejabat kota Sögel dan Werpeloh pada bulan Februari 2009. Dengan adanya rumah adat Batak di kota Werpeloh yang dibangun atas inisiatif pendeta Matthäus pada tahun 1978, maka disepakati bahwa Werpeloh sangat pantas untuk menjadi fokus kerjasama masyarakat Indonesia khususnya Batak dan masyarakat Jerman khususnya di kota Werpeloh dan Sögel. Diharapkan melalui persahabatan masyarakat Werpeloh dan sekitarnya dengan komuniti Batak di Jerman Utara dapat menarik minat masyarakat Jerman Utara terhadap budaya Indonesia yang pada gilirannya mereka akan berkunjung ke Indonesia.











