Delegasi Institut Teknologi Bandung dipimpin oleh Prof. Akhmaloka, Phd (Rektor) telah melakukan kunjungan kerja ke Jerman (Darmstadt, Bochum, Berlin, dan Hamburg) pada tanggal 20 – 24 Desember 2011 dalam rangka penandatanganan MoU dan LoI, serta penjajakan untuk meningkatkan cakupan kerjasama strategis antara ITB dengan beberapa institusi pendidikan di kota-kota tersebut.
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara ITB dengan Technischen Universität Hamburg-Harburg (TUHH) dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 2011 oleh Rektor ITB dan Wakil Rektor TUHH, Prof. Dr.-Ing Dieter Krause, disaksikan oleh Konjen RI Hamburg. MoU ini merupakan payung hukum bagi kedua universitas dalam melakukan program kerjasama yang bentuk dan lingkupnya akan segera dirintis bersama
Pada hari yang sama juga dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara ITB dan Technische Universität Ilmenau (TUI) oleh Dr. Edwan Kardena, Direktur Kemitraan dan Hubungan Internasional ITB dan Prof. Dr. Peter Scharff, Rektor TUI, disaksikan oleh DCM KBRI Berlin.
Disela-sela kunjungan ke Hamburg, Rektor ITB telah memenuhi undangan KJRI Hamburg untuk bertemu dan berdialog dengan masyarakat Indonesia yang sebagian besar terdiri dari para alumni ITB yang bekerja di Perusahaan Airbus dan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di berbagai perguruan tinggi di Hamburg dan sekitarnya. Pertemuan berlangsung di Gedung KJRI Hamburg dan dibuka oleh Konjen RI, M. Estella Anwar Bey.
Dalam sambutannya, Konjen RI menyampaikan apresiasi kepada Prof. Akhmaloka karena di tengah jadwalnya yang padat berkenan memberikan pencerahan mengenai perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia. Konjen mengharapkan pertemuan ini dapat dijadikan momentum yang baik untuk memberikan sumbangsih melalui pemikiran dan ide-ide yang diperlukan bagi masa depan dan kemajuan pendidikan di Indonesia.
Dihadapan sekitar 60 orang yang hadir, Prof. Akhmaloka menjelaskan bahwa tujuan kunjungannya ke Jerman yaitu untuk meningkatkan kolaborasi dengan beberapa universitas yang dinilai memiliki reputasi tinggi di bidang science dan technology. Hal ini terkait dengan visi dan profil terkini ITB yang tengah berbenah menuju institusi bertaraf internasional. Rektor mengemukakan bahwa salah satu isu yang tengah mencuat di dunia perguruan tinggi di tanah air adalah bagaimana menjadikan perguruan tinggi di Indonesia bertaraf internasional dan dapat bersaing dengan universitas-universitas lain di luar negeri. Ditekankan bahwa salah satu upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut yaitu melakukan kolaborasi dengan mitra di luar negeri, misalnya melalui double degree program.
Isu lain yang saat ini ramai dibicarakan di tanah air, yaitu mengenai Masterplan Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang pelaksanaannya dilandaskan pada tiga strategi utama, yaitu : (1) Pengembangan potensi melalui 6 koridor ekonomi yang dilakukan dengan cara mendorong investasi di setiap koridor ekonomi berdasarkan potensi dan keunggulannya masing-masing. yang ada. Keenam koridor tersebut adalah Sumatera, Jawa, Kalimantan Sulawesi, Bali NT, dan Papua – Maluku; (2) Penguatan konektivitas nasional guna memaksimalkan pertumbuhan, antara lain melalui perbaikan infrastruktur untuk menghubungkan daerah tertinggal dengan pusat pertumbuhan; dan (3) Pengembangan SDM berbasis Science and Technology di setiap koridor ekonomi untuk meningkatkan daya saing.
Terkait dengan pengembangan SDM, Rektor menjelaskan bahwa Pemerintah telah meminta ITB dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) untuk membantu mendirikan institut teknologi baru di Indonesia. Rencananya dua institut teknologi baru tersebut akan didirikan di pulau Sumatera dan Kalimantan. Saat ini prosesnya baru dalam tahap uji kelayakan. "Namanya apa kita belum tahu, yang jelas seperti ITB dan ITS sekarang. ITB menangani yang di Sumatera, ITS menangani yang di Kalimantan," ungkap Rektor
Selain itu, Rektor juga mengemukakan mengenai rencana Pemerintah memberikan 4000 beasiswa baru bagi warga Indonesia untuk menempuh studi tingkat magister dan doktoral di Jerman dalam rentang waktu 10 tahun, atau rata-rata 400 beasiswa baru per tahun. Hal tersebut dilaksanakan dalam kerangka Debt Swap yaitu program pengurangan utang luar negeri Indonesia ke Jerman atau dikenal juga dengan Program Beasiswa Indonesian-German Doctoral Scholarship (IGDS),. Ditekankan bahwa tujuan dari program tersebut, selain untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di bidang pendidikan, juga untuk meningkatkan mutu institusi Perguruan Tinggi di Indonesia yang salah satunya dilaksanakan melalui program Double Degree.
Dalam sesi tanya jawab, muncul banyak Pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat, diantaranya mengenai biaya pendidikan Di Indonesia yang sangat mahal, visi Pemri terkait dengan pengembangan inovasi Indonesia dalam jangka panjang, peran institusi pendidikan di Indonesia dalam pengembangan nilai-nilai budaya, implementasi e-learning pada institusi pendidikan di Indonesia, pelaksanaan program non-degree yang murah bagi masyarakat kelas bawah, dan masalah mengenai pengukuran kinerja Perguruan Tinggi di Indonesia.

















