Pada Sabtu yang cerah , tanggal 12 Juni bertempat di gedung Altstadtrathaus kota Braunschweig, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman Bpk. Eddy Pratomo beserta ibu dan bekerjasama dengan KJRI Hamburg telah menyelenggarakan acara resepsi dan Malam Kesenian Indonesia dalam rangkaian peringatan 50 tahun hubungan sister city bandung dan Braunschweig. Tempat yang dipilih untuk acara tersebut adalah gedung yang memiliki sejarah yang panjang dan unik, yaitu di Gedung Altstadtrathaus, Balai Kota tertua di Jerman yang dibangun pada abad ke-13, sehingga memiliki makna yang khusus untuk memperingati momentum penting ini dalam sejarah kedua kota Bandung dan Braunschweig.
Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 150 tamu undangan, yang terdiri dari Duta Besar RI Jerman, Eddy Pratomo, Act. Konjen Hamburg, Yayat Sugiatna, delegasi pemerintah Kota Bandung, pejabat kota Braunschweig, para pengusaha setempat, friend of Indonesia dan wakil masyarakat Indonesia di Braunschweig dan sekitarnya. Dalam resepsi tersebut ditampilkan beragam kesenian asal Jawa Barat seperti Angklung, kecapi suling dan tari-tarian, serta aneka hidangan makanan kecil khas Indonesia, seperti sate, martabak, resoles, perkedel kentang dan lain-lain.
Wakil Wali Kota (Bürgermeisterin) Braunschweig Friederike Harlfinger dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kunjungan delegasi Bandung yang datang ke Braunschweig untuk membicarakan peningkatan kerjasama antara kedua kota. Selain itu Ibu Harlfinger juga sangat berterima kasih atas inisiatif KBRI Berlin dan KJRI Hamburg untuk mengadakan malam peringatan ini dengan diadakannya resepsi dan malam budaya Indonesia.
Dubes Eddy Pratomo dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar acara peringatan 50 tahun kota kembar Bandung – Braunsweig dan Malam budaya Indonesia dapat semakin mendekatkan hubungan Indonesia – Jerman khususnya antara kota Bandung dan Braunschweig melalui “people to people contact” dan saling pengertian kedua masyarakatnya. Acara tersebut juga merupakan promosi budaya dan pariwisata Indonesia dalam upaya meningkatkan pemahaman dan pengetahuan budaya dan tujuan wisata Indonesia di Jerman.
Selanjutnya acara hiburan dimulai dengan Tari Jaipongan sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat dan disusul dengan tari merak. Gerakan yang dinamis dengan Tata busana para penari yang eksotis memukau para penonton.
Sebagai favorit para penonton pada acara malam budaya tersebut adalah musik Angklung khas Sunda yang dibawakan oleh sanggar seni Hamburg Angklung Orchestra yang dimainkan oleh 40 pelajar dan mahasiswa Indonesia di Hamburg. Musik tradisional khas Sunda ini yang terbuat dari bambu ini belum banyak diketahui oleh mayoritas penonton. Mereka sangat mengagumi lagu-lagu dengan lirik yang dibawakan dengan kompak dan menarik. Para pelajar dan mahasiswa yang bergabung dalam sanggar seni ini sudah lama berlatih agar bisa tampil prima memainkan alat musik Angklung di hadapan para tamu undangan yang merupakan pejabat dan tokoh-tokoh penting dari Kota Branschweig dan sekitarnya..
Mereka tampil dua kali yang selalu disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para penonton, yaitu pada tahap pertama membawakan lagu-lagu daerah dan Indonesia yang apik dan merdu seperti Manuk Dadali,Halo-halo Bandung, Kicir-kicir, dan Pileuleuyan. Kemudian pada babak kedua dan pada puncak acara sebelum penutupan, group angklung kembali tampil dengan membawakan lagu-lagu pop barat, seperti Besame Mucho, Moliende Cafe (Kopi dangdut), Song of Do Re Mi, New York New York, dan diakhiri dengan lagu Mission Impossible.
Selain itu, malam kesenian Indonesia juga diisi dengan tari Yapong, dua tarian Bali dan kecapi suling yang diiringi riuh tepuk tangan yang meriah. Selanjutnya penampilan rampak kendang disambut dengan gelak tawa para penonton. Para tamu sangat kagum atas rangkaian penampilan kesenian Indonesia selama hampir dua jam nonstop dan menyatakan bahwa malam peringatan 50 tahun hubungan sister city Bandung Braunschweig ini sangat sukses dan berhasil untuk meningkatkan citra positif kota Bandung di kota Braunschweig dan sekitarnya. Hubungan kedua kota akan berkembang terus, antara lain delegasi Braunschweig akan membalas kunjungan delegasi Bandung pada bulan September, dengan mengadakan kunjungan balasan ke kota Bandung yank sekaligus menghadiri peringatan 200 tahun Kota Madya Bandung.
Landasan atau dasar dari pembentukan kerjasama Kota Braunschweig dan Bandung mengadakan Partnership berawal dari saran Prof. Dr. George Eckert staf UNESCO yang berpijak bahwa kedua kota tersebut memiliki Perguruan Tinggi Keguruan. Kemudian tanggal 24 Juni 1960 di Museum Kota Braunschweig diresmikan persahabatan kedua kota tersebut yang ditandai dengan penandatanganan, dari Pihak Indonesia diwakili oleh Duta Besar RI, Dr. Zairin Zain dan dari pihak Jerman diwakili oleh Hans Gunther Weber (Direktur Kota) dan Oberburgermeister (Walikota Braunschweig) Ny. Martha Fuchs. Selanjutnya, piagam persahabatan kedua kota tersebut disempurnakan setelah ditandatangani oleh Walikota Bandung R. Prianatakusumah disaksikan oleh tokoh-tokoh Bandung dan utusan Braunschweig, Prof. Dr. Eckert, pada tanggal 24 Mei 1960 di Bandung.

















