Anda disini: HOME Promosi Terpadu Pariwisata, Perdagangan dan Investasi di Hamburg Jaring Berbagai Komitmen Bisnis

Kegiatan KJRI

 IMG_9785   

Pada tanggal 7 November 2011, Perwakilan RI di Jerman yaitu KBRI Berlin, KJRI Hamburg dan KJRI Frankfurt bekerjasama dengan Handelskammer (Kamar Dagang) Hamburg dan German – Asia Pacific Business Association (OAV) telah menyelenggarakan kegiatan Promosi Terpadu Tourism, Trade, and Investment (TTI) bertempat di Hotel Intercontinental, Hamburg. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya  Perwakilan RI di Jerman untuk  senantiasa memanfaatkan berbagai peluang dalam rangka memajukan hubungan ekonomi RI – Jerman, utamanya ditujukan untuk menjembatani para pemangku kepentingan di Indonesia, khususnya para pengusaha menemukan mitranya di Jerman.


Kegiatan Promosi Terpadu TTI merupakan program berkala yang diselenggarakan setiap tahun dengan tema dan fokus yang berbeda. Setelah sukses menyelenggarakan kegiatan pertama di Kota München tahun lalu, kali kini Kota Hamburg mendapat giliran sebagai tempat pelaksanaan promosi terpadu Indonesia. Sebagai salah satu kota perdagangan terpenting di Jerman dan juga dikenal sebagai kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa, Hamburg dinilai sangat potensial untuk pengembangan peluang ekonomi maupun jejaring bisnis Indonesia.

Penyelenggaraan kegiatan kali ini memilih tema ”Remarkable Indonesia: Tourism, Trade, and Investment Opportunities in Indonesia” -- Towards the 6oth Anniversary of Indonesia – Germany Bilateral Relations dan dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk Jerman Dr. Eddy Pratomo. Dalam sambutannya, Dubes RI menjelaskan bahwa fokus utama promosi terpadu ini ada pada empat sektor yang menjadi ketertarikan bersama kedua negara yaitu energi terbarukan, infrastruktur, komoditi dan pariwisata. ”Saya yakin bahwa sektor-sektor ini mewakili lingkup utama dari kesempatan usaha bagi para pebisnis, calon investor serta pemangku kepentingan yang lain di Jerman yang tengah mencari peluang usaha di Asia Tenggara, demikian tutur Dr. Eddy Pratomo. Dalam acara ini, Dubes RI mengharapkan terjadi saling tukar informasi bisnis antar para pengusaha dari kedua negara melalui  business-to-business meeting yang diselenggarakan setelah acara seminar.

Seminar diawali pula oleh sambutan dari Dr. Jens Peter Breitengross (Wakil Kamar Dagang Hamburg) dan Dr. Bernd Egert (Wakil Menteri Ekonomi Hamburg).                       Dr. Breitengross menyampaikan bahwa Asia, termasuk Indonesia, merupakan pasar potensial bagi Eropa dan pertumbuhan ekonominya yang stabil patut dipertimbangkan sebagai pendorong untuk melangsungkan bisnis. Hubungan kerjasama antara Jerman dan Indonesia yang telah terjadi selama ini tidak hanya dalam bentuk hubungan ekonomi (bisnis), namun juga people to people contact, sehingga diharapkan hubungan kerjasama tersebut akan berpotensi terhadap peningkatan investasi. Sementara itu, Dr. Egert menyampaikan tanggapan positifnya atas penyelenggaraan acara ini, terutama dalam rangka menandai hubungan bilateral Indonesia-Jerman yang ke-60 tahun (pada tahun 2012). Disampaikan bahwa Jerman dan Indonesia sama-sama telah berhasil melewati krisis ekonomi dunia. Terlebih lagi pada tahun 2010-2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 6% sehingga Indonesia patut dilirik sebagai partner bisnis. Tercatat 500 pengusaha Hamburg telah melakukan bisnis di Indonesia dan angka ini diperkirakan terus meningkat, bahkan pada tahun ini kenaikannya mencapai 45%. Dipilihnya kota Hamburg sebagai tempat penyelenggaraan acara dinilai sangat tepat mengingat berbagai potensi kota Hamburg sebagai kota perdagangan, antara lain dalam hal pelabuhannya, maritime system, aviation industry, maupun sebagai hot-spot Eropa untuk renewable energy sector.

Untuk menjelaskan berbagai kebijakan dan peluang usaha di Indonesia, hadir menyampaikan keynote address yaitu Dr. Bayu Krisnamurthi (Wakil Menteri Perdagangan), Dr. Sapta Nirwandar (Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), Dr. Bambang Susantono  (Wakil Menteri Perhubungan).

Dr. Bayu Krisnamurthi memberikan penjelasan secara umum mengenai kondisi perekonomian Indonesia. Dijelaskan bahwa pertumbuhan GDP Indonesia diperkirakan akan mencapai titik tertinggi pada 2011 pasca krisis 1997/1998 dan pertumbuhan ekspor Indonesia untuk migas dan non-migas terus meningkat 30%. Apabila hal ini dapat dipertahankan hingga akhir tahun 2011, maka total ekspor Indonesia tahun ini akan mencapai 200 milyar US$. Perkembangan positif ini diharapkan dapat mendorong pengusaha Jerman untuk membuka dan mengembangkan bisnis di Indonesia.

Dr. Bambang Susantono menjelaskan mengenai 6 koridor ekonomi dalam master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), salah satunya pembangunan infrastruktur pendukung (pelabuhan udara, pelabuhan laut, power & water suppliers). Hal yang menjadi perhatian saat ini adalah transportasi domestik, khususnya transportasi antar pulau yang memadai. Setelah transportasi tersebut dinilai mencukupi, maka selanjutnya akan dikembangkan international connectivity. Untuk mempercepat pertumbuhan infrastruktur umum, antara tahun 2007-2009 telah dibuat 4 peraturan hukum untuk mempermudah keterlibatan private sector dalam pembangunan infrastruktur tersebut.

Dalam kaitan ini, Pemerintah RI mengundang pihak Jerman untuk bekerjasama di bidang pembangunan infrastruktur dimaksud.

Dr. Sapta Nirwandar menjelaskan mengenai potensi Indonesia yang memiliki beragam budaya, keindahan alam, keramahan masyarakat, dan kelezatan kulinernya, serta menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak kota tujuan MICE (meetings, incentives, conferencing, and exhibitions) yang dapat dijadikan pilihan oleh kalangan pengusaha asing.

Sementara itu, untuk memberikan kepastian keamanan bagi para calon investor, hadir pula Brigjen (Pol) Anas Yusuf dari Bareskrim Polri yang memaparkan mengenai perkembangan terkini situasi keamanan di Indonesia yang kondusif dan aman untuk melaksanakan kegiatan bisnis. Dipaparkan bahwa Pemerintah Indonesia senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menciptakan dan memelihara keamanan di seluruh wilayah Indonesia.

Kegiatan diisi oleh acara seminar yang dibagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama yang dimoderatori Ms. Corinna Niendstedt dari Kamar Dagang Hamburg, tampil sebagai pembicara Dr. Ing. Ilham Habibie (Ketua Kadin Komite German, Austria dan Swiss) dan Timo Prekop (Executive Member of Board, German-Asia Pacific Business Association/OAV) yang membahas mengenai berbagai upaya penguatan hubungan ekonomi Indonesia-Jerman. Dr. Ing Ilham Habibie memaparkan mengenai 2 pilar utama ekonomi Indonesia saat ini yang terdiri dari konsumsi domestik dan sumber daya alam, yang sebagian besar diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Diharapkan basis manufaktur akan menjadi pilar utama ekonomi Indonesia yang ke-3. Dikatakannya, Indonesia harus memiliki orientasi untuk memproduksi barang, tidak hanya mengekspor bahan baku. Dalam kaitan ini, dibutuhkan dukungan dan kerjasama dari pihak Jerman, termasuk investasi di bidang teknologi dan pendidikan. Indonesia juga harus memperhatikan sustainability, antara lain dengan menerapkan environmental friendly business (geothermal). Sedangkan Timo Prekop menjelaskan mengenai hubungan perdagangan Indonesia-Jerman, dan menekankan bahwa Jerman merupakan pasar produk Indonesia terbesar di Uni Eropa.

Potensi enerji terbarukan dan komoditi Indonesia menjadi topik utama yang dibahas dalam sesi berikutnya oleh Luhut Panjaitan (Preskom PT. Toba Sejahtera), Joseph Hong (Presdir PT. Greenworld Enerji Nusantara), dan  Elieser Sorohadmodjo (Presdir. PT. Elsoro). Luhut Pandjaitan menyatakan kesiapan pihaknya untuk bekerjasama dengan pengusaha Jerman dalam sektor pertambangan batu bara, minyak dan gas, serta pertanian. Sementara, Joseph Hong menyampaikan bahwa sumber daya alam Indonesia yang melimpah merupakan asset, tidak hanya bagi Indonesia tapi juga bagi dunia, sehingga potensi kerjasama dengan Indonesia sangat terbuka lebar. Elieser Sorohadmodjo menyampaikan bahwa bisnis kimia sangat berpotensi dan akan berkembang terus mengingat kebutuhan akan bahan kimia sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga pengusaha ini mengundang secara langsung para pengusaha Jerman untuk dapat bekerjasama dengan mereka.

Pengalaman dua pengusaha Jerman yang telah sukses dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia dipaparkan secara gamblang oleh Thomas Cremer dari Peter Cremer Holding GmbH yang memiliki usaha di bidang perdagangan komoditas, dan Harald Ploss dari Ploß & Co GmbH dengan usaha di bidang industri furniture. Keduanya sangat mendukung dan mengharapkan peningkatan hubungan kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Jerman, dan menyarankan agar pengusaha Jerman memiliki jaringan kontak yang kuat dengan para pengusaha setempat di Indonesia.

Acara penting yang juga digelar dalam kegiatan ini adalah One on One Meeting yang diikuti lebih dari 36 pelaku bisnis dan 10 pelaku pariwisata dari kedua negara yang berlangsung lancar dan produktif. Wakil dari BKPM juga memberikan slot waktunya kepada para pengusaha Jerman yang ingin mengadakan konsultasi khusus terkait kerjasama investasi dan perdagangan di Indonesia.

Sebagai salah satu realisasi sekaligus bentuk keyakinan pengusaha Jerman atas iklim investasi di Indonesia telah dilakukan penandatanganan Perjanjian antara PT. Elsoro Multi Pratama dan Helm AG. Selain itu, pada kesempatan yang sama, Persatuan Alumni Jerman dan Persatuan Pelajar Indonesia di Jerman juga menandatangani Memorandum Saling Pengertian yang akan mewadahi kerja sama antara kedua pihak.

Kegiatan yang berlangsung selama sehari penuh dan sarat dengan pembahasan yang produktif ini diakhiri dengan acara resepsi yang dihadiri oleh para peserta dan tamu undangan dari kalangan pemerintah, pengusaha, dan korps diplomatik. Kepuasan para peserta atas kegiatan promosi terpadu ini tampak terlihat dari antusiasme dan  penuhnya pengunjung Malam Resepsi yang berlangsung meriah dengan menampilkan berbagai seni dan budaya tradisional Indonesia.

  • My Indonesia
  • My Indonesia
  • My Indonesia
  • My Indonesia
Anda disini: HOME Promosi Terpadu Pariwisata, Perdagangan dan Investasi di Hamburg Jaring Berbagai Komitmen Bisnis